CommoPlast

Lotte Chemical Titan executes $25.3M naphtha sale to Indonesian subsidiary for feedstock continuity

The Malaysian entity is sustaining this intra-group supply transfer by drawing down inventories procured prior to the 28 February 2026 outbreak of hostilities.



Eskalasi konflik geopolitik memaksa realokasi kritis stok petrokimia regional, seiring Lotte Chemical Titan Holding Berhad (LCTH) mengambil langkah melindungi produksi downstream-nya di Indonesia dari kelumpuhan rantai pasok makro.

Anak usaha LCTH, Lotte Chemical Titan (M) Sdn Bhd (LCTM), mengeksekusi penjualan nafta senilai $25,29 juta (RM103,71 juta) kepada PT Lotte Chemical Indonesia (LCI). Transaksi afiliasi diumumkan pada 20 April 2026 ini dirancang secara strategis memitigasi risiko operasional dan memastikan kesinambungan bahan baku mengikuti penutupan Selat Hormuz. LCI, mengoperasikan kompleks petrokimia Cilegon yang baru diresmikan, dimiliki 51% oleh LCTH.

Entitas Malaysia itu menahan transfer pasokan intra-grup ini dengan mengandalkan stok diperoleh sebelum pecahnya konflik pada 28 Februari 2026. Berdasarkan jeda pengadaan standar selama enam minggu, stok yang ada di kompleks terintegrasi Pasir Gudang diperkirakan hanya dapat mendukung produksi polimer downstream hingga Mei 2026.

Transaksi ini diperkirakan tidak akan memberikan dampak material terhadap laba per saham, aset bersih, maupun tingkat leverage LCTH untuk tahun buku berakhir pada 31 Desember 2026. Namun, seiring perusahaan induk agresif mencari kargo bahan baku alternatif dari Amerika Utara dan Asia Selatan, dengan menanggung biaya pengiriman yang sangat tinggi, sektor lokal menghadapi kendala struktural serius.

Menipisnya cadangan nafta Malaysia saat ini menghadirkan probabilitas tinggi terjadinya deklarasi force majeure dan penghentian produksi pada Juni 2026 jika rute pelayaran alternatif tetap tidak dapat diandalkan.


Written by: Aiman Haikal